Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 September 2014

Pilihan

Sebuah nilai, terkadang didapatkan seseorang pada jenjang kehidupan yang berbeda dengan orang lain. Kita tidak pernah tau kapan kita akan belajar sesuatu di kemudian hari. Kita tidak pernah bisa memprediksi nilai apa yang akan kita dapatkan ketika 10 atau 20 tahun lagi. Atas pilihan A yang kita yakini, akan ada nilai yang berbeda ketika mungkin dulu kita memutuskan pada pilihan B atau C..

Maka saya pikir sebenarnya tidak ada yang mutlak salah dengan pilihan-pilihan sepanjang hidup kita. Tentu saja ini di luar konteks "haq dan bathil" yang sudah jelas dalam aturan agama.

Sadar atau tidak, kita selalu dihadapkan pada beragam pilihan yang masing-masing bisa saja membawa kita pada skenario yang berbeda pula, dan pada akhirnya akan membawa kita pada kesimpulan-kesimpulan atau nilai yang bisa saja berbeda.

Saya kemudian teringat sebuah hadist yang mengatakan, "hikmah adalah milik setiap muslim yang hilang, dimana saja ia menemukannya maka ia berhak mengambilnya." (HR.Tirmidzi).

Maka jangan pernah takut melangkah ketika suatu ketika kita dihadapkan pada percabangan yang harus kita pilih kemana kita akan melanjutkan perjalanan. Dan sebaliknya, jangan pernah pula begitu mudah menentukan pilihan-pilihan hidup kita tanpa memikirkan baik-baik setiap konsekuensinya.

Percayalah, pilihan yang berbeda akan membawa kita pada petualangan hidup yang berbeda, dan dalam setiap petualangan itu akan tersebar nilai-nilai yang berbeda pula. Ini pintu ikhtiar kita sebagai manusia, saatnya memanfaatkan potensi akal dan nurani yang Allah beri. Dalam setiap pilihan ada niat, strategi, dan yang terberat (bagi saya) adalah konsekuensi. Tapi Allah Maha Baik, karena di pilihan manapun itu, selalu ada hikmah luar biasa yang Ia siapkan. Tinggal kitanya saja yang jeli atau tidak dalam melihatnya.

Itu poinnya, kejelian manusia dalam memahami hikmah adalah yang menjadikan setiap orang mendapatkan nilai-nilai yang berbeda pula pada jenjang hidup mereka.

Dan kemudian saya mulai memahami, sebenarnya Allah hanya ingin kita senantiasa berpikir.. itu saja. Berpikir yang menuntun kita pada pilihan baik di atas banyak pilihan lain yang bisa saja tampah waah tapi berdampak buruk. Berpikir sebelum bertindak, agar setiap langkah kita selanjutnya akan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Agar tidak ada lagi ucapan, "seadainya dulu aku.. kalau saja waktu itu.." Berpikir dengan lebih jeli pada setiap hal yang kita jalani.

Hikmah tidak akan datang terlambat bagi mereka yang senantiasa berpikir, inshaa Allah.. :)

.......................................

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) nya, dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh terdapat tanda-tanda (keEsaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan." (QS.2:164)

"Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS.3:191)

"Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali?" (QS.19:67)

 "Maka apakah kamu tidak memikirkan?" (QS.37:155)




Bandung, 31 Mei 2014


Lia Puspitasari

Minggu, 05 Mei 2013

mungkin, ada yang salah dalam sholat kita..

 
Saya mendapati ada banyak hal luar biasa dalam praktik sholat berjama'ah, 5 di antaranya yaitu :

1. Hanya boleh ada satu orang yang dapat berdiri menjadi imam sholat, jika dalam pertengahan pelaksanaan sholat tiba-tiba imam batal / tidak dapat meneruskan sholat, maka harus ada yang langsung menggantikan posisinya, sehingga tidak mengganggu jalannya ibadah hingga usai.

2. Ma'mum boleh (bahkan bisa jadi wajib) mengoreksi imam saat keliru dalam bacaan sholat, dengan aturan tertentu. Hal ini secara tidak langsung menuntut ma'mum sedikit banyak juga harus memahami bacaan sholat, khususnya surah-surah yang dibaca setelah Al-Fatihah. Karena hanya yang memiliki pengetahuan saja yang dapat mengetahui saat bacaan imam keliru atau mungkin lupa. Maka posisi imam tidak serta merta selalu benar. Sebaliknya, posisi ma'mum juga tidak serta merta hanya sebagai "pendengar", namun juga "pengawas" dan "pengoreksi" saat terjadi kekeliruan. Karena kekeliruan dalam sholat, dapat mempengaruhi sah tidak nya sholat tersebut.

3. Bijaksana dalam memilih surah. Menyesuaikan dengan kondisi ma'mum.

"Apabila di antara kalian mengimami jamaah sholat, maka hendaknya ia memperpendek sholatnya. Karena di antara jamaah sholat ada anak-anak, orang tua, orang lemah, dan yang memiliki keperluan. Dan jika ia melaksanakan sholat sendiri, maka ia boleh melaksanakannya (memperpanjang atau memperpendeknya) sekehendaknya." (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim, atau Muttafaq Alaihi)

4. Ma'mum dilarang bergerak mendahului imam serta tanggung jawab imam sebagai pemimpin sholat. 

"Dari Abdullah bin Yazid dia berkata, telah menceritakan kepadaku al-Bara’, dan dia bukanlah pendusta, bahwa mereka shalat di belakang Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, lalu apabila beliau mengangkat kepalanya dari rukuk, maka aku tidak melihat seorang pun yang melengkungkan punggungnya (semuanya tegap berdiri), hingga Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam meletakkan keningnya pada tanah, kemudian orang yang ada di belakang beliau menyungkur sujud.” (HR. Muslim 728)

Imam Ahmad Rahimahulullah berkata,

“Imam (adalah) orang yang paling layak dalam menasihati orang-orang yang shalat di belakangnya, dan melarang mereka dari mendahuluinya dalam ruku’ atau sujud. Janganlah mereka ruku’ dan sujud serentak (bersamaan) dengan imam. Akan tetapi, hendaklah memerintahkan mereka agar rukuk dan sujud mereka, bangkit dan turun mereka (dilakukannya) setelah imam. Dan hendaklah dia berbaik dalam mengajar mereka, karena dia bertanggung jawab kepada mereka dan akan diminta pertanggungjawaban besok. Dan seharusnyalah imam meperbaiki shalatnya, menyempurnakan serta memperkokohnya. Dan hendaklah hal itu menjadi perhatiannya, karena, jika dia mendirikan shalat dengan baik, maka dia pun memperoleh ganjaran yang serupa dengan orang yang shalat di belakangnya. Sebaliknya, dia berdosa seperti dosa mereka, jika dia tidak menyempurnakan shalatnya.”

5. Khusyuk-nya bacaan dan hubungan yang kuat seorang imam terhadap Allah mampu mempengaruhi pula ke-khusyuk-an ma'mum. Kondisional memang, tergantung individu nya. Namun sering kali saya dapati tangisan/kesedihan imam dalam melafalkan surah tertentu serta semangatnya saat dengan surah yang lain, mampu mentransfer atmosfer perasaan yang sama kepada ma'mum.

..........................

Uraian di atas, sedikit menjadi refleksi bagi saya tentang makna sebuah amal jama'i.

Betapa sesungguhnya Allah telah mengajarkan hikmahnya dalam praktik ibadah harian kita..
dan kemudian, saat mas'ul (pemimpin) dan jundi (tentara / yang dipimpin) sering saling menyerang, saat khianat menjadi kebiasaan, saat tak ada lagi sami'na wa atho'na dalam beramal, saat ucapan dan kebijakan tak dilandasi ilmu dan keimanan, dan saat satu per satu mulai melangkah menghindar,..

saat sebuah jama'ah tak lagi harmoni,

mungkin, ada yang salah dalam sholat-sholat kita..


"Hai jiwa yang tenang, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.."
 (QS. Al-Fajr : 27-30)

...............


Bandung, 06 Mei 2013 ; 01.31 WIB

 


Minggu, 10 Juni 2012

Saya Mahasiswa Tingkat Akhir


Beberapa bulan terakhir ini Allah memberikan kesempatan agar saya dapat berdiskusi dengan teman-teman ADK dari berbagai universitas, baik itu mengenai kondisi LDK di kampus mereka masing-masing, strategi perekrutan mahasiswa baru, alur kaderisasi lembaga, program-program syi'ar dan peningkatan kualitas kader pengurus, ataukah hanya sekedar obrolan ringan untuk lebih mengenal karakteristik kader dari berbagai daerah

Maka selain ada ilmu-ilmu baru tentang dakwah kampus yang saya dapatkan dari diskusi tersebut, saya bisa menyimpulkan satu hal bahwa, aktivis dakwah kampus selalu menemukan permasalahan yang sama di tingkat akhir perkuliahan mereka, yaitu, SKRIPSI..hehe :)

Nah, ulasan yang ingin saya buat kali ini bukan tentang bagaimana managemen / strategi dakwah dari kampus mereka, karena saya merasa masih belum pantas untuk menuliskannya, selain itu data yang terkumpul masihlah belum memadai, maka saya menjadi khawatir hasilnya tidak begitu maksimal jika dipaksakan saat ini.

Ulasan kali ini ringan saja, hehe.. sambil mengingat masa lalu, saya akan mencoba sedikit berbagi tentang bagaimana dulu saya menyelesaikan permasalahan mahasiswa tingkat akhir itu saat masih kuliah S1 di Universitas Mulawarman Samarinda.

Yup, kali ini, kita akan berbicara tentang skripsi.. ^.^b

Semoga tulisan ini terlindungi dari hal-hal yang tidak mendatangkan berkah dari-Nya.

Bismillahirrahmanirrohim..

Hal pertama yang harus sama-sama kita pahami adalah, kita semua pasti akan menjumpai skripsi dalam proses perjalanan kuliah kita. Apakah itu mau kita percepat atau malah akan kita undur pengerjaannya. Yang pasti, “saat” itu akan tetap kita jalani, kita HARUS MENYELESAIKANNYA. Karena seperti yang kita tau, skripsi adalah syarat penting kelulusan S1.

Hal kedua yang juga harus kita sepakati adalah, kita BUKAN MAHASISWA BIASA. Ada berbagai pertimbangan amanah organisasi yang (sering) mempengaruhi pengambilan keputusan kita dalam pengerjaan skripsi tersebut. Pertanyaan “siapa yang akan meneruskan amanah itu ketika saya pergi?” selalu singgah di pikiran kita. Benar?

Hal ketiga yang tak kalah penting adalah, kita smua punya keluarga dan lingkungan yang senantiasa menilai serta mengharapkan yang terbaik dari pribadi kita. Katakanlah, kuliah ini adalah juga sebagai bentuk pelaksanaan TANGGUNG JAWAB kita kepada orang tua yang telah membiayai, serta mendoakan kita agar sukses nantinya. Sepakat?

Jika kita sudah menyepakati ketiga hal tersebut, maka saya akan memulai cerita saya…
………………..

Saya mulai mengerjakan skripsi pada semester 4. Tapi jangan mengira bahwa pada saat itu saya sudah langsung mulai menulis proposal skripsi / konsultasi-konsultasi kepada dosen pembimbing, belum.. Taukah apa yang saya lakukan di semester 4 itu? Saya membuat PETA KELULUSAN.

Isinya adalah alur-alur dan target yang harus saya lalui untuk menperoleh gelar S.Farm. Jangan juga mengira bahwa peta skripsi itu adalah sesuatu yang sempurna dan valid untuk saya ikuti hingga lulus. Tidak, sungguh peta skripsi awal saya jauh dari sempurna. Banyak sekali mengalami revisi pada semester-semester sesudahnya.

Catatan penting pada poin pertama ini adalah, buatlah RENCANA. Tanpa rencana yang jelas untuk masa depan, sama saja kita sedang merencanakan kegagalan. Hal ini tentu bukan sekedar rencana bahwa bulan sekian saya akan seminar proposal, bulan berikutnya saya sidang pendadaran, dan seterusnya.. bukan, tentu tidak semudah itu rencana yang harus kita buat. Ingat, kita bukan mahasiswa biasa.

Rencana yang kita buat harus jelas dan realistis dengan tahapan-tahapan pencapaiannya. Contoh, ketika kita merencanakan seminar proposal pada semester ke-7, maka kita juga harus menentukan langkah-langkah untuk mencapainya, seperti mencari alternatif judul proposal yang baik sejak semester 6, konsultasi dengan pihak-pihak tertentu sejak semester 5, mencari referensi jurnal-jurnal / studi kasus lapangan, hingga menentukan berapa waktu yang kita perlukan (serta targetkan) untuk menyelesaikan tulisan proposal skripsi kita. Nah, langkah-langkah “kecil” tersebut sangat penting untuk mencapai target seminar proposal di semester 7 itu. Maka, buatlah serinci mungkin apa yang harus kita lakukan untuk mencapai setiap target. Dan, KONSISTEN UNTUK MELAKSANAKAN SETIAP TARGET yang kita buat. Kalau perlu, tulis besar-besar di kertas / papan tulis, dan tempel / letakkan di tempat yang selalu kita lihat setiap hari. Dinding kamar misalnya.

Selanjutnya, saya mulai mewujudkan satu per satu target yang telah saya buat tersebut. Dalam proses pelaksanaannya, tentu banyak terjadi hambatan. Maka, hal penting selanjutnya adalah rutin melakukan EVALUASI TARGET. Fleksibel saja. Jika memang harus ada target yang direvisi, maka segera perbaiki. Penyegeraan evaluasi tersebut membuat kita selalu on fire mencapai tahapan-tahapan target selanjutnya yang belum tercapai. Insya Allah, SABAR DAN IKHLAS saja dalam menjalaninya. Allah menilai setiap usaha kita, yang penting kita sudah benar-benar MELAKUKAN DENGAN MAKSIMAL. Eitss..jangan salah, perencanaan dalam bentuk target itu adalah salah satu poin penting untuk memaksimalkan usaha kita lo..

Poin kedua, yang tentu saja tidak kalah pentingnya, yaitu JANGAN PERNAH MENINGGALKAN AMANAH DAKWAH KARENA SKRIPSI. Banyak aktivis yang terjebak untuk memilih di antara keduanya, jika fokus skripsi maka pasti akan meninggalkan aktivitas dakwah, begitu pula sebaliknya. Tidak, saya tegaskan sekali lagi bahwa tidak seperti itu. Pegang dengan keteguhan hati kita isi kandungan QS. Muhammad : 7, “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong agama Allah niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”.

Sikap yang tepat adalah dengan mengaturnya dengan managemen yang baik. Fokus bukan berarti meninggalkan hal lain untuk melakukan satu hal khusus saja. Bukan seperti itu. Jangan lupa bahwa fokus merupakan salah satu bentuk profesionalitas kita sebagai bukan mahasiswa biasa. Contoh nyatanya seperti ini, pada saat syuro maka fokuskan pikiran dan tubuh kita dengan hal yang berhubungan dengan materi syuro. Jangan sampai ada jurnal bahan skripsi di samping buku syuro kita, atau jangan pula asyik brosing bahan penelitian pada saat pemimpin syuro sedang memaparkan agenda syuro. Begitu pun sebaliknya, saat di kelas dosen sedang menjelaskan materi kuliah, kita malah asyik sms-an koordinasi dengan ketum tentang rencana agenda dakwah ahad nanti. Hehe..intinya, jangan mencampur-adukkan amanah yang satu (akademik) dengan amanah yang lain (organisasi dakwah).

Ehm..sebenarnya untuk yang satu itu, saya juga sempat beberapa kali “melanggar”nya sendiri kemarin. Hehe.. Memang saya akui sulit, memusatkan pikiran untuk satu hal (kuliah misalnya) di saat yang bersamaan mungkin kita juga sedang menghadapi satu permasalahan dakwah yang harus segera diselesaikan. Atau, di saat acara dakwah yang sedang tampak “membosankan”, pikiran kita malah ada di tumpukan tugas-tugas kuliah di rumah. Subhanallah, dan saya pun mengakui, saat-saat itu adalah waktu yang paling tepat untuk mengaplikasikan ilmu manageman waktu kita.Maka, tertantanglah kita untuk bisa menerapkan FOKUS PADA TEMPATNYA.

Jika pun suatu saat terjadi benturan yang sulit diatasi, maka langkah yang selanjutnya lagi-lagi bukan meninggalkan amanah dakwah, tapi “mengurangi” intensitasnya. Kita alokasikan diri kita untuk peran-peran dakwah yang masih dapat kita lakukan sambil tetap menyelesaikan amanah akademik. Contoh, jika pada semester 6 jumlah binaan kita ada 4 halaqoh, maka mungkin langkah yang bijaksana untuk menguranginya menjadi 2 halaqoh saja pada semester 7, dengan catatan 2 halaqoh yang lain tentu sudah mampu dikondisikan untuk dilakukan rolling murabbi / penataan kelompok. Contoh lain, jika pada tahun ke-3 perkuliahan kita memiliki amanah di 2 organisasi internal dan 1 organisasi eksternal kampus, maka bijaksana pula untuk memaksimalkan diri hanya di 1 organisasi saja pada tahun ke-4. Tentu lagi-lagi dengan catatan, kita harus sudah memaksimalkan adanya regenerasi sebelumnya, atau antisipasi-antisipasi lain sehingga kepergian kita tidak membuat organisasi tersebut menjadi bermasalah. Inilah pentingnya perencanaan di awal, untuk mengantisipasi hal-hal seperti regenerasi kader misalnya. Kadang kita terlena dengan amanah dakwah kita, tidak sadar bahwa waktu kita sungguh sempit di tempat ini, sementara pekerjaan kita yang lain masih banyak yang harus diselesaikan.

Selanjutnya, poin ketiga, KOMUNIKASIKAN DENGAN BAIK pilihan-pilihan (baik pikiran maupun tindakan) kita kepada pihak-pihak terkait. Contoh, untuk pengerjaan skripsi maka yang tepat adalah mengkomunikasikannya dengan dosen kita. Sampaikan minat dan keinginan yang ingin kita dapat dari skripsi kita tersebut, kapan target kelulusan kita, dan mintalah kesediaan dosen kita untuk membantu mewujudkannya.

Selanjutnya komunikasikan pula dengan pihak keluarga, dalam hal ini orang tua kita. Sampaikan perkembangan akademik kita, untuk orang tua yang pendidikannya juga tinggi dan paham tentang perkuliahan, kita bisa ajak diskusi tentang rencana yang akan kita jalankan untuk mencapai target kelulusan, apa saja kendala dalam penelitian, dan sebagainya. Namun jika orang tua kita kurang paham tentang segala kerumitan kuliah kita (hehe..), maka jelaskanlah hal-hal umum yang mampu mereka mengerti saja. Intinya, mereka tau bahwa kita sedang berusaha yang terbaik untuk kuliah kita. Hal itu akan membuat mereka percaya dan bangga dengan bagaimanapun hasil yang kita dapatkan di akhir perkuliahan nantinya.

Dan..komunikasikan pula dengan qiyadah kita di organisasi terkait hal ini. Jangan sampai kita tiba-tiba “menghilang” tanpa kabar berita dan dinilai non-aktif tanpa alasan yang jelas. Komunikasikan dengan bijak lo, jangan berlebihan pula. Peran qiyadah yang nantinya akan membantu kita mengatur hal-hal yang dapat tetap kita kerjakan bersamaan dengan pengerjaan target akademik kita (skripsi). Maka, qiyadah juga dituntut bijak dalam hal ini. Eitss..satu hal lagi, jangan lupa komunikasikan semuanya dengan murabbi.

Poin keempat, atau yang terakhir..tapi sesungguhnya menjadi yang paling utama, yaitu PERBAIKI HUBUNGAN DENGAN ALLAH SWT. Insya Allah Dia akan membimbing kita memilih yang terbaik, melakukan yang terbaik, serta menjadi yang terbaik untuk semua pihak.. Insya Allah dengan niat yang lurus, ikhtiar yang maksimal, dan doa yang tulus.. kesuksesan itu bukan hal yang mustahil.

Maka apapun pilihan kita, lulus cepat atau lulus PADA WAKTU YANG TEPAT, keduanya mampu kita pertanggungjawabkan kelak di hadapan-Nya..

...................
Astaghfirullah..astaghfirullah..astaghfirullah..

Saya tentu sangat jauh dari kesempurnaan, mungkin banyak pihak yang terdzalimi atas pilihan yang telah saya ambil dulu, mungkin juga ada amanah yang menjadi tidak maksimal karena saya memilik untuk memaksimalkan amanah yang lain.

Maka, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya, semoga mereka dan Allah SWT mengampuni dan menjadikannya sebagai pelajaran serta hikmah di kemudian hari.

SELAMAT BER-IKHTIAR.. !!! ^.^/ 


Jogjakarta, 11 Juni 2012 ; 01.08 WIB

Minggu, 27 Mei 2012

Doa Abu Bakar ra.


Baru saja mendapat telpon dari kawan lama, tiba-tiba menyadarkan saya akan satu hal, yang selama ini jarang sekali terpikirkan.
Setiap manusia punya skenario kehidupannya masing-masing.. 

Teman saya itu, baru saja menjadi PNS di sebuah rumah sakit di Balikpapan. Dia bidan, setiap hari dia bertemu dengan berbagai macam manusia dengan kasus relatif sama, tentang kehamilan.
Sejak kecil ia hidup di Balikpapan, dari mulai lahir hingga kini. Hidupnya sungguh untuk mengabdi di kota itu. Cita-citanya, ingin sekali keluar dari Balikpapan, sesaat saja merasakan kehidupan di kota yang berbeda. Ia juga ingin melanjutkan sekolah ke Surabaya. Semoga Allah suatu saat mengabulkan harapannya, di waktu yang tepat, kesempatan yang paling tepat.

Ia bosan, dengan rutinitas pekerjaannya saat ini di rumah sakit. Terlebih lagi amanah organisasi tidak ada, dan amanah sebagai murrobi pun sudah tidak lagi ia miliki. Jadwal kerja membuat semua itu terasa mustahil untuk dilakukan di sela-sela kesibukan. Tapi ia teguh, hingga kini masih tetap melawan rasa bosannya, kejenuhannya dalam rutinitas kerja, yang saya pahami, sedikit demi sedikit mungkin mulai melemahkan semangatnya. Dulu dia juga aktivis, aktif sekali malah. Mungkin kesibukannya kini berbeda dengan rutinitas yang sebelumnya ia geluti. 

Saya paham, tentu, karena beberapa bulan yang lalu pun saya pernah merasakan kebosanan yang sama.
Tapi dia bertahan, dan melawan..itulah yang membedakannya dengan saya. Salah satu caranya melawan kejenuhan itu adalah dengan menelpon saya, kawan lama, yang entah mungkin dia pikir mampu memberinya nasehat bijak untuk terus melanjutkan hidup dengan lebih bersemangat. 

Ucapan terakhirnya di telpon tadi, “terima kasih ya ukhti untuk nasehatnya..”

Ya Rabb, padahal yang saya lakukan hanya mendengarkan ceritanya saja, dan tentu menanggapi seperlunya. Tapi sungguh, saya merasa dialah yang lebih banyak -tanpa sadar- memberikan nasehat untuk saya.

Ahh.. terkadang saya terkejut dengan tanggapan orang-orang lain terhadap diri saya.
Mereka terlalu tinggi memandang diri ini..
Teringat doa Abu Bakar As-Sidiq ketika banyak sekali pujian yang ia dapatkan sebagai seorang khalifah dan sahabat Rasulullah SAW.
“..Ya Allah, jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangka..”

Saya bukan siapa-siapa tanpa kalian kawan.. dan tak ada apa-apanya tanpa Allah SWT..
Maha Suci Allah Yang telah menutup segala aib, dan menjadikan saya ada di titik ini.
Paling tidak, saya bersyukur, bisa menjadi seseorang yang orang lain percaya untuk mendengarkan cerita mereka, dan memberikan senyum tulus ketika mereka membutuhkannya..
Saya bersyukur, apa adanya diri saya saat ini, bisa bermanfaat bagi orang lain.



Sabtu, 04 Februari 2012

Ini Al-Qur'an, bukan sekedar novel terjemahan..

Pernah membaca Qur'an? Pernah berusaha menghapalnya? hehe.. atau mungkin jangan-jangan anda termasuk yang sudah hapal Qur'an? (Tiba-tiba saya jadi malu..karena 22 tahun saya hidup belum mampu mengkhatamkan hapalan bahkan hingga 10% dari seluruh isi Al-Qur'an). Ahh..susah g' sih? apa ya yang membuat "pekerjaan mulia" ini begitu sulit untuk dilakukan. Padahal kalau kita perhatikan, saat kita belajar dulu semasa sekolah, kita mungkin dengan cepat mampu menghapal materi pelajaran yang ada di buku (apalagi kalau besoknya mau ujian, hehe..). Atau sewaktu mau maju sidang akhir skripsi, wuahh..semua materi kuliah yang berkaitan dengan skripsi sudah kita hapal bahkan di luar kepala (sampai-sampai keluar semua&lupa deh..) :)

Jadi, apa yang membedakan? bukankah semuanya sama-sama berbicara tentang menghapal?

Buat kita-kita yang suka mendengarkan musik.. coba ingat-ingat, sudah berapa lirik lagu yang kita hapal, bahkan mungkin senantiasa kita dendangkan tanpa sadar. Emm..sudah berapa judul album yang kita tau, bahkan lengkap dengan biografi hidup sang penyanyi.. (Hitung hitung hitung.. waahh..saking banyaknya sampai g' kehitung lagi)

Nah, sekarang buat yang suka membaca novel.. Berapa banyak novel yang menjejali rak buku kita hari ini? Pasti sudah dibaca semua dong ya.. Apakah kita hapal setiap cerita dalam novel itu? Tentu saja.. bahkan ada yang ingatannya luar biasa sampai ke detail cerita, alur, karakter tokoh, pengarang, penerbit, harga, waktu pembelian, de el el.. :)

ahh..Bukannya ingin membandingkan (memang begitu sih tujuan sebenarnya, hehe), tapi hanya ingin mengatakan bahwa bukankah Al-Qur'an itu juga "buku" yang kita baca setiap hari (buat yang rajin tilawah setiap hari lo yaa..), isinya seharusnya sudah familiar dengan kehidupan kita sedari kecil. Ingat g' waktu pertama kali kita hadir di dunia apa yang didendangkan dengan merdunya di telinga kecil kita? ADZAN saudaraku.. dan bukankah adzan berbahasa Arab, bahasa Qur'an.. (ingat g' ya? kan waktu itu masih bayi..)
Lima kali sehari juga bukankah kita "mau tidak mau" selalu mendengar panggilan sholat dari masjid-masjid terdekat kita? Dan bukankah itu juga bahasa Qur'an? 

Nah, tapi kenapa ya menghapal "buku" yang satu ini butuh perjuangan yang luar biasa? G' segampang menghapal novel / lirik-lirik lagu favorit kita..

Emm..mungkin karena keistimewaan "buku" ini saudaraku..
Tau sejarah turunnya Al-Qur'an kan? Tau dong..
Kalau begitu pasti juga tau bahwa ini bukan sekedar "buku"..

"buku" ini adalah MUKJIZAT! yup, sesuatu yang istimewa, yang diberikan kepada hamba-Nya yang juga pasti istimewa.. (yaitu Nabi Muhammad SAW yang senantiasa kita jadikan contoh kehidupan, ya kan?)
Mau bukti? bahkan dalam QS.Al-Baqarah ayat 23, Allah SWT sampai menantang manusia untuk membuat yang seperti Al-Qur'an ini..

"Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar" (QS.Al-Baqarah : 23) 


Bisa? hahaha.. g' ada satu makhluk pun yang mampu melakukannya..bahkan seorang Nabi sekalipun. Karena memang Al-Qur'an itu datangnya dari Allah SWT,

"Sesungguhnya (Al Quran) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman." (QS.Hud : 11)

Nah, yuk kita kembali ke pertanyaan "kenapa sulit sekali ya menghapal Qur'an? g' segampang menghapal lagu / cerita novel..

Yup, karena Al-Qur'an ini suci saudaraku.. ia adalah mukjizat yang suci dari buatan / campur tangan manusia.. 
Untuk mendekat kepada sesuatu yang suci, maka kaupun harus suci, suci secara fisik, pikiran, dan tentu saja hati..

Bersihkan niat ketika membacanya atau ketika ingin menghapalnya, fokuskan pikiran kita, jangan sampai aktivitas tilawah kita lakukan bersamaan dengan ngobrol, sms-an,dll.. hehe, g' fokus jadinya..
dan secara fisik juga bukankah kita disunnahkan dalam keadaan berwudhu ketika ingin membaca Qur'an?

Maka, ketika mungkin saat ini kita begitu sulit membaca, atau menghapalkan ayat-ayat mulia ini, yuk kita koreksi diri kita..

Sudah luruskah niat kita untuk tilawah/menghapal hanya semata-mata karena Allah?

Sudah sucikah fisik kita dengan senantiasa menjaga wudhu ketika tilawah?

dan..sudah bersihkah pikiran kita ketika berhadapan dengan Al-Qur'an untuk mulai menghapalnya?

Ahh..mungkin tidak bertambahnya hapalan ini karena maksiat yang senantiasa kita kerjakan.. karena pengaruhnya sungguh besar saudaraku.. Maksiat-maksiat itu bagaikan tip-ex bagi hapalan kita, bisa menghapusnya sampai g' keliatan lagi bekas hapalannya..malah tergantikan dengan bekas tip-ex nya, alias bekas-bekas maksiat kita.. ckckck.. Astaghfirullah..

Jadi, inilah Al-Qur'an, bukan sekedar novel terjemahan.. Kalau mau "menaklukkannya" (menghapal maksudnya), maka taklukkan dulu diri kita untuk menjauhkan diri dari yang mengotori pikiran, hati, dan fisik kita..

Yuk, sama-sama berbenah.. 

Jogjakarta, 04 Februari 2012
Muroja'ah oh muroja'ah.. :)