Tampilkan postingan dengan label Kontemplasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kontemplasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Februari 2016

Sampai kapan kita tarbiyah?

Dalam sebuah kesempatan bertemu dengan para calon mentor di sebuah fakultas beberapa hari yang lalu, ada sebuah kalimat yang terucap begitu saja dari lisan saya setelah pemberian materi dan berlanjut pada sesi diskusi, 



“proses tarbiyah kita ini tidak terbatas oleh apapun, lakukan sepenuh hati sepanjang yang kita mampu.. 

Ah bukan, ada satu hal yang membatasinya, yaitu waktu yang kita punya, waktu hidup kita di dunia.. 
Maka teruslah menjalani proses tarbiyah ini, hingga Allah yang memutuskan kapan kita harus berhenti.”


2005-2016

tak terasa, 11 tahun telah berlalu.. 

Semoga masih bisa terus belajar, berproses menjadi lebih baik, hingga waktu yang Allah tetapkan bagi saya untuk kembali kepada-Nya.. 

yang membatasi proses belajar kita hanya ada 1, waktu hidup kita di dunia..



Samarinda, 18 Februari 2016

Lp

Kamis, 08 Januari 2015

Menyelisihi Hawa Nafsu

Ada hal yang begitu menakutkan bagi saya, melebihi sesuatu yg memang nyata tertampak sebagai dosa..
Yaitu pada perkara mubah, yang dilakukan melebihi porsinya..
Yaitu pada perkara subhat, yang terasa nyaman untuk dijadikan kebiasaan..

Salah seorang sahabat pernah berucap, jika kau ragu, maka apa yg menyelisihi hawa nafsu adalah sesuatu yg harus dipilih untuk dijalani..

Namun terkadang, atau bahkan sering kali, pada apa-apa yg menyelisihi hawa nafsu itu, justru terasa lebih nyaman untuk dihindari..

Begitukah?
Yah, begitulah..

Mari, terus berproses, terus berbenah :)

MBI, 2005-2015.

Minggu, 05 Mei 2013

mungkin, ada yang salah dalam sholat kita..

 
Saya mendapati ada banyak hal luar biasa dalam praktik sholat berjama'ah, 5 di antaranya yaitu :

1. Hanya boleh ada satu orang yang dapat berdiri menjadi imam sholat, jika dalam pertengahan pelaksanaan sholat tiba-tiba imam batal / tidak dapat meneruskan sholat, maka harus ada yang langsung menggantikan posisinya, sehingga tidak mengganggu jalannya ibadah hingga usai.

2. Ma'mum boleh (bahkan bisa jadi wajib) mengoreksi imam saat keliru dalam bacaan sholat, dengan aturan tertentu. Hal ini secara tidak langsung menuntut ma'mum sedikit banyak juga harus memahami bacaan sholat, khususnya surah-surah yang dibaca setelah Al-Fatihah. Karena hanya yang memiliki pengetahuan saja yang dapat mengetahui saat bacaan imam keliru atau mungkin lupa. Maka posisi imam tidak serta merta selalu benar. Sebaliknya, posisi ma'mum juga tidak serta merta hanya sebagai "pendengar", namun juga "pengawas" dan "pengoreksi" saat terjadi kekeliruan. Karena kekeliruan dalam sholat, dapat mempengaruhi sah tidak nya sholat tersebut.

3. Bijaksana dalam memilih surah. Menyesuaikan dengan kondisi ma'mum.

"Apabila di antara kalian mengimami jamaah sholat, maka hendaknya ia memperpendek sholatnya. Karena di antara jamaah sholat ada anak-anak, orang tua, orang lemah, dan yang memiliki keperluan. Dan jika ia melaksanakan sholat sendiri, maka ia boleh melaksanakannya (memperpanjang atau memperpendeknya) sekehendaknya." (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim, atau Muttafaq Alaihi)

4. Ma'mum dilarang bergerak mendahului imam serta tanggung jawab imam sebagai pemimpin sholat. 

"Dari Abdullah bin Yazid dia berkata, telah menceritakan kepadaku al-Bara’, dan dia bukanlah pendusta, bahwa mereka shalat di belakang Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, lalu apabila beliau mengangkat kepalanya dari rukuk, maka aku tidak melihat seorang pun yang melengkungkan punggungnya (semuanya tegap berdiri), hingga Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam meletakkan keningnya pada tanah, kemudian orang yang ada di belakang beliau menyungkur sujud.” (HR. Muslim 728)

Imam Ahmad Rahimahulullah berkata,

“Imam (adalah) orang yang paling layak dalam menasihati orang-orang yang shalat di belakangnya, dan melarang mereka dari mendahuluinya dalam ruku’ atau sujud. Janganlah mereka ruku’ dan sujud serentak (bersamaan) dengan imam. Akan tetapi, hendaklah memerintahkan mereka agar rukuk dan sujud mereka, bangkit dan turun mereka (dilakukannya) setelah imam. Dan hendaklah dia berbaik dalam mengajar mereka, karena dia bertanggung jawab kepada mereka dan akan diminta pertanggungjawaban besok. Dan seharusnyalah imam meperbaiki shalatnya, menyempurnakan serta memperkokohnya. Dan hendaklah hal itu menjadi perhatiannya, karena, jika dia mendirikan shalat dengan baik, maka dia pun memperoleh ganjaran yang serupa dengan orang yang shalat di belakangnya. Sebaliknya, dia berdosa seperti dosa mereka, jika dia tidak menyempurnakan shalatnya.”

5. Khusyuk-nya bacaan dan hubungan yang kuat seorang imam terhadap Allah mampu mempengaruhi pula ke-khusyuk-an ma'mum. Kondisional memang, tergantung individu nya. Namun sering kali saya dapati tangisan/kesedihan imam dalam melafalkan surah tertentu serta semangatnya saat dengan surah yang lain, mampu mentransfer atmosfer perasaan yang sama kepada ma'mum.

..........................

Uraian di atas, sedikit menjadi refleksi bagi saya tentang makna sebuah amal jama'i.

Betapa sesungguhnya Allah telah mengajarkan hikmahnya dalam praktik ibadah harian kita..
dan kemudian, saat mas'ul (pemimpin) dan jundi (tentara / yang dipimpin) sering saling menyerang, saat khianat menjadi kebiasaan, saat tak ada lagi sami'na wa atho'na dalam beramal, saat ucapan dan kebijakan tak dilandasi ilmu dan keimanan, dan saat satu per satu mulai melangkah menghindar,..

saat sebuah jama'ah tak lagi harmoni,

mungkin, ada yang salah dalam sholat-sholat kita..


"Hai jiwa yang tenang, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.."
 (QS. Al-Fajr : 27-30)

...............


Bandung, 06 Mei 2013 ; 01.31 WIB

 


Kamis, 11 Oktober 2012

Istikharah

.........................

"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon petunjuk yang baik dengan pengetahuan-Mu. 
Aku memohon agar diberi kekuatan dengan kekuatan-Mu. 
Aku memohon kemurahan yang sangat luas, 
karena sesungguhnya Engkau berkuasa, sedangkan aku tidak. 
Engkau Maha Mengetahui, sedang aku tidak, 
dan Engkau Maha Mengetahui segala yang ghaib. 

Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku, bagi agama, 
bagi kehidupanku saat ini dan masa depan, 
maka mudahkanlah ia bagiku. 
Kemudian berkahilah ia bagiku. 

Sedang apabila Engkau mengetahui bahwa perkara itu buruk bagiku, bagi agama, 
bagi kehidupanku saat ini dan masa depanku, 
maka jauhkanlah ia dariku, atau jauhkanlah aku darinya. 
Berikanlah kepadaku kebaikan di manapun adanya, 
dan jadikanlah aku orang yang ridho dengan pemberian-Mu itu.."

(HR.Al-Bukhari)

................................

Disunnahkan bagi wanita Muslimah yang ingin menentukan pilihan terhadap sesuatu (yang terbaik) untuk mengerjakan sholat sunnah dua roka'at, selain yang diwajibkan, baik itu sholat sunnah rawatib maupun tahiyyatul masjid, pada siang atau malam hari. Setelah membaca Al-Fatihah, dibolehkan baginya membaca surat apa saja yang dikehendakinya. Kemudian bertahmid dan bershalawat kepada Nabi SAW.

Diriwayatkan dari Jabir, dia bercerita ; bahwa Rasulullah SAW mengajarkan shalat sunnah istikharah (meminta petunjuk) kepada kami dalam segala hal. Sebagaimana beliau mengajarkan kepada kami sebuah surat dari Al-Qur'an, seraya berkata : Apabila salah seorang di antara kalian menghendaki sesuatu hal, maka hendaklah ia mengerjakan sholat dua roka'at, selain sholat fardhu. Kemudian hendaklah ia berdoa : (doa sebagaimana yang telah saya tulis di atas uraian ini).


sumber : Fiqih Wanita (Syaikh Kamil Muhammad Uwaidah) hal 190-191

Rabu, 10 Oktober 2012

tentang rasa.. (copas)


Jika anugrah itu membahagiakan
Maka cinta yang [katanya] merupakan anugrah dariNYA
Seharusnya juga membahagiakan
Namun adakalanya
Ada yang merasa tak bahagia dengan cinta
Atau janganlah terlalu dini menyebutnya cinta
Mari kita sebut saja sebuah rasa
Rasa yang berbeda
Yang [lagi-lagi katanya] menggetarkan jiwa
Aha
Mungkin memang belum saatnya
Rasa itu ada
Hingga diri merasa nista dengan rasa
Atau jangan-jangan rasa yang ada
Didominasi oleh nafsu sebagai manusia
Jika itu permasalahannya
Maka titipkanlah rasa pada SANG PENGUASA
Biarkan ia yang belum saatnya, bersamaNYA
Biarkan waktu yang kan menjawabnya
Hingga Dia mengembalikan rasa itu jika saatnya tiba
Wanita.. Wanita..
Slalu saja
Bermain dengan rasa
Maka mendekatlah padaNYA
Agar rasa yang belum saatnya
Tetap terjaga
Agar rasa yang ada
Tak membuat hati kecewa
Agar rasa yang dirasa
Tak membuat jauh dariNYA
Biarkanlah diri merasa nista dengan rasa
Jika ternyata nafsu tlah menunggangi ia yang belum saatnya
Hingga akhirnya membuat diri menangis pilu karenanya
Menangis karena menyadari bahwa dirinya masih rapuh ternyata
Masih perlu belajar bagaimana mengelola rasa yang belum saatnya
Ya Rabbana
Hamba titipkan rasa yang belum saatnya
Agar ia tetap suci terjaga
Hingga waktunya tiba

copas by : Lhinblue Alfayruz
 
 

Jumat, 31 Agustus 2012

Wahai Pemuda!

Wahai pemuda!

Sesungguhnya, sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya. Sepertinya keempat rukun ini, yaitu iman, ikhlas, semangat, dan amal merupakan karakter yang melekat pada diri pemuda, karena sesungguhnya dasar keimanan itu adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah nurani yang bertaqwa, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora, dan dasar amal adalah kemauan yang kuat. Itu semua tidak terdapat kecuali pada diri para pemuda. Oleh karena itu, sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda merupakan rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikrah, pemuda adalah pengibar panji-panjinya.

"Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk." (QS.Al-Kahfi : 13)

Beranjak dari sini, sesungguhnya banyak kewajiban kalian, besar tanggung jawab kalian, semakin berlipat hak-hak umat yang harus kalian tunaikan, dan semakin berat amanat yang terpikul di pundak kalian. Kalian harus berpikir panjang, banyak beramal, bijak dalam menentukan sikap, maju untuk menjadi penyelamat, dan hendaklah kalian mampu menunaikan hak-hak umat ini dengan sempurna.

....................................

Bersiap-siaplah, wahai para tokoh! Sungguh, alangkah dekatnya kemenangan bagi kaum mukminin dan alangkah besarnya keberuntungan bagi para aktivis yang tak henti berjuang.
  
-Hasan Al Banna-






Saya suka sekali pidato-pidato beliau.
Awal membacanya bertahun silam, ruh semangat itu begitu menggelora dan meluap hebat.
Semua, bermuara pada dakwah. Hanya dakwah Illallah..
Apapun tak diperdulikan, semua tantangan siap dihadang.
Hanya kecintaan dan totalitas perjuangan pada dakwah saja..
Kekuatan ruh itu begitu luar biasa,
Kala itu..


Sekarang? Masihkah??

Pertanyaan sederhana yang cukup rumit menjawabnya, "semakin lama apa yang kita rasa?"


Bandung, 31 Agustus 2012 ; 22.19 WIB


Lia Puspitasari
(3 bulan menunggu -lagi-)

Siapa Kamu??


"Aku adalah patriot yang berjuang menegakkan kehormatan, kebebasan, ketenangan, dan kehidupan yang baik bagi tanah air ku di bawah naungan Islam yang hanif. Aku adalah manusia bebas yang mengetahui rahasia wujudnya, sehingga wujud itu pun berseru, 'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam yang tiada sekutu bagi-Nya. Kepada itulah aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri'.. Itulah aku. Dan kamu, kamu sendiri siapa?"
(HASAN AL-BANNA)